1. Afiah = ilmu
Ibunda ‘Aisyah radhiyaLLaahu ‘anha suatu hari bertanya, “Ya Rasulullah, jika aku bertepatan waktu dengan lailatul qadar, permohonan apa yang harus aku minta?” Rasulullah menjawab, “Mintalah Afiah!”

Demikian istimewakah sebuah “afiah” hingga Rasulullah merekomendasikan untuk diminta di waktu, yang sangat menentukan? Waktu menentukan sekaligus termahal karena begitu mustajabnya dan senilai ibadah selama seribu bulan. Ternyata “afiah” memuat makna yang hebat. Afiah bermakna ilmu. Maka meminta afiah berarti meminta ilmu.

Permintaan hebat orang yang mengantar pemintanya pada ketinggian status di hadapan Allah dan status di hadapan orang beriman.
Orang berilmu menjalani kebaikan tanpa jemu sebagaimana mensabari ujian tanpa lesu bahkan berani membela yang haq tanpa ragu.

2. Afiah = ketaatan
Meminta “afiah” berarti meminta dimampukan mendatangi ketaatan. Ketika ketaatan sulit
diupayakan, bersandar ia pada alamat ketaatan ditujukan, sekali gus sumber segala kekuatan dan kemampuan (Allah). Bukankah ini cara cerdas mengantar diri dalam ketaatan? Jika semua detik

dapat kita ikat dalam ketaatan dengan bantuan Yang Maha Memampukan, mengupayakan dalam ketaatan bukan hal berat lagi untuk diperjuangkan. Jika ketaatan hanya sebatas ikhtiar manusia, alangkah beratnya jiwa dan raga terdidik menerimanya.
Semoga setiap detik umur yang kita miliki selalu terbimbing ilmu dan terikat dalam ketaatan.

3. Afiah = halal
Begitu besar arti afiah dalam hidup ini selayaknya menjadi idola yang diminta. Meminta afiaf berarti meminta rezeki yang halal. Karenanya terjaga mudah mendatangi amal dan baik dalam Allah sebuah amal. Sahabat Sa”ad bin Abi Waqosh RadhiyaLLahu ‘anhu sosok terpilih memimpin pasukan besar dalam perang Qodisiah. Sekali pun kondisinya sakit yang menyulitkan gerak ia tetap yang dipilih

Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu “anhu sebab beliau termasuk yang mustajab doanya. Suatu hari ia bertanya kepada Rasulullah rahasia agar doanya terkabul. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepadanya.

 “Perbaikilah makananmu niscaya doamu mustajab!” 

Perbaiki makananmu, maksudnya pastikan setiap suap makanan dalam kondisi halal. Baik
halal barangnya maupun halal proses mendapatkannya.
Setiap makanan yang haram ketika masuk tubuh berubah menjadi darah berdampak pada shalat dan ibadah tertunda dalam penerimaan. Karena amal shalih diantarkan dengan makanan yang halal.

Dan jika darah berubah menjadi daging maka api nerakalah yang menjamah, na’udzubillah min dzalik.
Saudaraku… mencari yang halal tidaklah mudah… maka mintalah kepada Allah. Mencari yang halal tidaklah gampang, maka selalulah berjuang. Mencari yang halal jaminan amal dan doa diterima.

maka apa pun resikonya kita menata diri dan hati membiasakan. Semoga Allah mencukupkan kita kepada yang halal dan menutup selera kita kepada yang haram. Aamiin.

4. Afiah = Kesabaran
Meminta afiah juga berarti meminta kesabaran dalam menjalani segala ujian. Alangkah besarnya peran afiah jika demikian. Mendapatkan hidayah adalah indah, tetapi merawat hidayah jauh lebih indah. Dipastikan rintangan dan perjuangannya memakan tenaga waktu dan harta/biaya.

Perhatikan kembali episode keluarga Yasir dalam siksaan kafir Quraisy. Status rendah di
masyarakat memicu banyak orang melecehkannya, bahkan berani menyiksanya. Tidak hari itu saja, hari ini pun terjadi. Saat itu jumlah muslimin belumlah banyak. Maka pembelaan kepada saudaranya belumlah memungkinkan. Akhirnya Yasir harus terbelah dua tubuhnya, terpisah karena kedua kakinya ditarik oleh dua ekor unta yang digelak secara berlawanan.

Sumaiyah istrinya pun harus tertombak dan syahidah pula. Ammar putranya harus berpura-pura kufur saking beratnya siksaan yang tak terkira. Kiranya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melihat mereka dengan segala penderitaannya, menghiburnya dengan sebait doa yang sepadan dengan harga pengorbanannya.

 “ Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya kalian telah dijanjikan Jannah.”

Ada pun hari ini membawa hidayah diuji dengan sulitnya nafkah, dituduh dalam fitnah, teman-teman yang tak berhidayah berharta melimpah, teman-teman yang berhidayah tampak miskin dan dhuafa, tak jarang juga penderitaan fisik membikin lemah. Akankan mudah menyerah?

Sekalipun belum sepadan dengan derita para pendahulu mereka yang shalih! Akankah mengaku kalah,sekalipun musuh Allah belum melukai sedikitpun?
Saudaraku….. mintalah afiah! Anugrah yang sangat dibutuhkan setiap mukmin untuk tidak kalah.

Semoga Allah meneguhkan hati untuk tidak berpindah dari-Nya, menganugrahkan lisan untuk tidak mengeluh,serta meneguhkan perbuatan untuk tidak melampiaskan dalam keburukan dan kesesatan penukar terburuk dari kebaikan dan hidayah Ar Rahmaan.

Yaa muqallibal quluub Tsabbit Qalbii ‘ala diinika
Wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agama-Mu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *